Ramai-ramai BangunPengering dan Silo

Johan, Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) mengaku, saat ini pabrik pa kan sangat bergantung pada jagung lokal. “Kami tidak boleh impor jagung dan impor gandum pakan juga belum diberi rekomendasi. Kami berharap pasokan lokal cukup,” ujarnya kepada AGRINA.

Sementara penyediaan jagung pakan melalui Program Lahan Khusus Jagung (PLJK) 2016 antara GPMT dengan 29 Kepala Dinas Pertanian Provinsi, baru 10 provinsi yang sudah ditindaklanjuti. Luasan lahan di Lampung yang bekerja sama dengan GPMT mencapai 13.116 ha, Jabar seluas 2.141 ha, serta lahan khusus dan Perhutani di Pandeglang, Banten sekitar 3.430 ha. Untuk Jatim, Sulsel, Jateng, Sumut, Jambi, Sulut dan Gorontalo masih dalam tahap survei dan koordinasi dengan dinas terkait. Ketua Umum GPMT, Desianto Budi Utomo menuturkan, 93% produksi pakan anggota GPMT adalah

pakan ayam yang 55% bahan bakunya dari jagung. “Kebutuhan kita flat (rata) sekitar 700 ribu ton/ bu lan sepanjang tahun. Kita lihat setelah panen raya hing ga April 2017 pasokannya berapa,” ungkapnya pascapertemuan GPMT dengan Mentan Andi Amran Sulaiman dan jajarannya (18/1). Jika sepanjang ta hun ketersedian jagung tercukupi, Desi meyakini ti dak perlu lagi impor jagung, apalagi gandum pakan.

Dilema Panen Raya

Di sisi lain, petani antusias menanam jagung karena melihat tercapainya harga jagung yang baru. Hasil Sembiring, yang kala itu menjabat Dirjen Ta naman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) memaparkan adanya realisasi tanam jagung pada Oktober 2016 hingga 29 Januari 2017 berturut-turut seluas 724.196 ha, 697.616 ha, 764.470 ha, dan 270.307 ha.

“Berdasarkan jadwal tanam tersebut diperkirakan akan ada produksi pipilan kering pada Januari sampai Maret 2017 masing-masing sebanyak 3,46 juta ton, 3,33 juta ton, dan 3,65 juta ton dengan total mencapai 10,43 juta ton,” rincinya. Sedangkan GPMT memperkirakan, jumlah panen lebih banyak lagi, yaitu 12 juta – 15 juta ton, hingga April 2017.

Sejauh ini GPMT memiliki pengering (dryer) de ngan kapasitas 24.425 ton/hari dan silo kapasitas 1,25 juta ton yang tersebar di 10 provinsi. Mes ki begitu Desi mengkha wa tirkan ada nya kele bih an pasokan jagung sete lah panen raya yang tidak tertampung oleh GPMT. Ia ber harap pe merintah ber tindak ce pat mengantisipasi ja tuh nya harga jagung.

Aldrian Irvan Kolonas, Chief Executive Officer (CEO) PT Vasham Kosa Sejahtera (Vasham) me nerangkan, sebanyak apa pun dryer dan silo dibangun, tidak akan cukup jika panen jagung terjadi serentak secara nasional. “Pemerintah se baiknya segera ba- ngun irigasi di Lampung supaya petani tidak se lalu memburu tanam ja gung pada musim ga du,” harapnya. Dengan adanya irigasi, musim ta- nam bisa diatur sehingga pasokan jagung lokal lebih stabil.

Ekspansi

Nurfin Trisno, Head of Sales PT Bühler Indonesia melihat adanya peningkatan tren pemanfaatan pengering dan silo seiring bertambahnya kebutuhan di dalam negeri. “Dua tahun belakangan tren penjualannya kurang bagus. Tahun ini baru membaik. Sudah ada pabrik pakan yang berencana untuk ekspansi,” terangnya tanpa menyebut pabrik pakan mana yang menggunakan jasa dan pela yanan produk berteknologi Jerman ini.

Selain Bulog yang berencana membangun dryerdan silo, anggota GPMT juga melakukan hal serupa. PT Japfa Comfeed Indonesia (JCI) memiliki 14 unit pabrik pakan dengan fasilitas silo jagung berkapasitas 304.200 ton, 11 unit pengering kapasitas 7.600 ton/ hari, 9 unit Standing Alone Dryer kapasitas 2.400 ton/hari, silo kapasitas 86.500 ton, 2 unit depo ka pa sitas 1.500 ton. JCI berencana menambah silo ka pa sitas 42 ribu ton di 6 lokasi serta menunjuk Va sham sebagai salah satu mitra penyerap PLJK di Lampung.

Vasham sendiri sudah melayani petani jagung de ngan program kemitraannya di Lampung dan Ja teng. Pada 2016 perusahaan sosial ini menggandeng mitra sebanyak 6.628 petani dengan lahan 6.494 ha. Vasham juga membangun dryer kapasitas 400 ton/hari dan silo kapasitas 12 ribu ton di Lam pung. Masih di provinsi yang sama, Vasham akan me nam bah pengering dan silo dengan kapasitas 800 ton/hari dan 12 ribu ton.

Tahun ini Grup Charoen Pokphand (CP) bakal me nambah silo di Cirebon, Jabar serta dryerdan silo di Se marang, Jateng. Berlanjut ke 2018, CP juga akan membangun pengering dan silo berkapasitas 500 ton/hari dan 10 ribu ton di Gorontalo. Ada juga CJ Feed Indonesia yang berencana mendirikan pabrik pakan di lengkapi silo di Semarang dan Kalimantan Selatan, me nambah dryerdi Lampung dan Medan, serta silo di Medan.

Teknologi Baru

Irvan menuturkan, pengering jagung di pabriknya berbeda dengan pengering yang sudah ada. “Mesin kami bisa mengeringkan jagung dengan kadar air hingga 32%. Pengering di perusahaan lain umumnya hanya mampu menampung jagung dengan kadar air di bawah 30%,” jelas alumnus University of Southern California, Los Angeles, Amerika Serikatini. Suwardy, Direktur Utama PT Tri Mitra Sukses Ber sama membenarkan memang ada pengering yang mampu menerima jagung dengan kadar air 32%42%. “Bisa mengeringkan jagung kadar air 40%, asal jangan dicampur-campur. Range kadar air sekitar 5%. Jadi kadar air 40% tidak bisa dicampur dengan 30% tapi bisa dicampur jagung berkadar air 35%,” jelas Adi, sapaan akrabnya.

Saat ini, ujar Adi, dryer sudah terintegrasi dengan ponsel genggam (handphone). “Sudah bisa simpan data, menyalakan, dan mematikan mesin melalui hand phone. Sangat mudah,” ungkapnya. Dryer juga mampu mengeringkan dengan cepat sehingga lebih hemat listrik tetapi tidak mengubah kualitas jagung dan rendemennya tetap sama

. Nurfin menjelaskan, silo pun sudah dilengkapi sensor suhu sehingga kualitas jagung tetap terjaga. Tidak perlu takut memilih dryerdan silo berteknologi tinggi karena penyedia pasti memperhatikan pela yanan setelah penjualan. Adi menambahkan, tek nologi oto matisasi juga penting untuk meminimal kan kesalahan manusia.