ISPO Harus Bertransformasi Diri Melibatkan Beragam Pelaku Usaha.

ISPO Harus Bertransformasi Diri Melibatkan Beragam Pelaku Usaha.

Perbaikan ISPO Menurut Edi Suhardi, praktisi industri sawit, ISPO mampu membangun kesadaran dan memberikan inspirasi serta aspirasi bagi pengusaha sawit dan negara lain untuk membangun sistem kelapa sawit berkelanjutan. Malaysia contohnya, membentuk Malaysian Sustainable Palm Oil yang bersifat wajib bagi pelaku usaha sawit di Negeri Jiran pada 2019. Meski menganut prinsip dan kriteria yang komprehensif, ISPO tetap memerlukan perbaikan agar diterima pasar internasional.

Edi menjelaskan, Eropa tidak akan melihat ISPO sebagai satu-satunya standar. “Mereka hanya mengakui standar dari multi-stakeholders, seperti RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil), ISCC (International Sustainability and Carbon Certification), dan RAC (Rainforest Alliance Certification). Kita melihat inisiatif ini muncul karena ketidakpercayaan publik Eropa terhadap industri sawit Indonesia,” katanya. Menilik landasan aturan, ISPO tegas berdasarkan hukum, mewakili kepentingan nasional, dan mengutamakan kepatuhan. Sertifikasi yang bersifat wajib ini pun terakreditasi secara nasional dan memperoleh peng akuan penuh dari industri sawit nasional dan regio nal. Dari perspektif pasar, ISPO mengha dapi beberapa tantangan. Misalnya, ISPO tidak dilihat sebagai insentif untuk pasar, konsumen, dan petani.

Direktur Keberlanjutan Goodhope Asia itu menambahkan, walau materi ISPO sangat kuat, kredibilitas ISPO di mata internasional tetap dipertanyakan ketika tetap menutup mata dari keterlibatan multi-stakeholders, khususnya pasar yang meminta sertifikasi pihak produsen. Sebab, tuntutan pasar sejatinya diken dalikan oleh lembaga non pemerintah (Non Govern ment Organization, NGO) yang lebih tertarik pada aspek sosial dan lingkungan, teutama pembangun an kebun baru. “Ini berakibat pada pasar premium Eropa tidak melihat ISPO sebagai standar yang bisa diterima,” ungkapnya. ISPO, dalam pandangan Edi, harus mentransformasi diri secara akomodatif dan responsif dengan melibatkan empat pelaku industri sawit dalam koridor aturan dan kelembagaan. Yaitu, dunia usaha perkebunan kelapa sawit Indonesia, NGO lingkungan dan sosial yang diakui dunia internasional, Industri hilir dan pasar, serta lembaga keuangan.

Transformasi ini bisa menjawab tuntutan pasar premium yang masih skeptis terhadap ISPO Posisi ISPO pun akan menguat ketika membina jaringan atau keanggotaan di forum internasional seperti International Social and Environmental Accre ditation & Labelling (ISEAL) untuk penyu sunan standar dan Accreditation Services International (ASI) untuk jaminan kualitas lembaga sertifikasi. Langkah itu diiringi peningkatan transparansi dan tata kelola yang baik dengan menjaga komitmen, integritas, proses sertifikasi yang cepat serta tanggap terhadap tuntutan berbagai pihak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *