Saatnya Menerapkan Precision Farming

Menurut Winarno Tohir, Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional, saat ini petani menghadapi kondisi perubahan iklim dan persaingan global. Persaingan harga, kualitas, dan produktivitas beras antarpetani se-ASEAN misalnya, sudah tidak ada lagi batasnya.

Melansir data International Rice Re-search Institute (IRRI) 2016, pria yang akrab disapa Win ini menjelaskan, ongkos produksi padi di Indonesia lebih mahal 2,5 kali lipat dari Vietnam. “Ongkos produksi padi di Indonesia Rp4.079/kg, di China Rp3.661/kg, India Rp2.306/kg, Thailand Rp2.291/kg, dan Vietnam Rp1.619/kg,” ujarnya pada seminar bertema “Tiga Faktor Meningkatkan Produktivitas Padi: Nutrisi, Varietas, serta Pengendalian Hama dan Penyakit” di kawasan pabrik PT Pupuk Kujang, Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (20/7).

Karena itu, Win menganjurkan petani untuk menerapkan precision farming (pertanian yang tepat dan akurat). “Indonesia sudah memungkinkan menerapkan precision farming karena sudah memiliki semua perangkat lembaganya. Hanya saja belum disinergikan satu sama lain,” ucapnya.

Precision Farming

Win menjelaskan, penerapan precision farming dimulai dari hulu sampai hilir dengan melibatkan akses informasi dan teknologi budidaya, panen, serta perubahan iklim, peningkatan kapasitas SDM pertanian, penguatan Badan Usaha Milik Petani (BUMP), hingga akses pembiayaan dan pemasaran.

Sisi budidaya meliputi sistem pengairan, pengolahan lahan, teknologi tanam, penggunaan benih unggul, pemupukan, dan pestisida, serta pengelolaan organis-nologi budidaya, panen, serta perubahan iklim, peningkatan kapasitas SDM pertanian, penguatan Badan Usaha Milik Petani (BUMP), hingga akses pembiayaan dan pemasaran. Sisi budidaya meliputi sistem pengairan, pengolahan lahan, teknologi tanam, penggunaan benih unggul, pemupukan, dan pestisida, serta pengelolaan organisme pengganggu tumbuhan (OPT ) yang memanfaatkan penyuluh terutama ketika terjadi serangan OPT. Semua tahapan serba terukur. Misalnya pengairan bukan lagi dengan penggenangan, tetapi cukup macak-macak. Cara tanam bukan lagi tanam mundur, melainkan jajar legowo. Benih dipilih sesuai kondisi setempat dan tahan terhadap perubahan iklim. Pun dalam pengendalian OPT, petani memaksimalkan pengamatan dini sehingga keputusan cara pengendalian lebih tepat.

Di sini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berperan vital dalam penyebaran informasi perubahan iklim global. Selain itu, asuransi pertanian sangat bermanfaat bagi para petani pada era perubahan iklim global. “Petani yang masuk asuransi pertanian hanya membayar 20% premi senilai Rp36 ribu karena yang 80% disubsidi pemerintah. Bila gagal panen padi, akan mendapat pergantian Rp6 juta/ha,” ulasnya.

Sedangkan di hilir, peran BUMP sangat diperlukan dalam memperkuat kapasitas petani dengan kepemilikan lahan 0,35 ha. Menurut Win, BUMP sebuah model untuk menyejahterakan petani dengan dukungan awal berupa permodalan dan teknologi pascapanen padi guna membentuk kawasan industri perberasan. Setiap 50 ribu – 100 ribu ha lahan perlu kawasan industri perberasan yang didukung mesin industri pengolahan padi menjadi produk bernilai tambah, seperti arang sekam, jerami teakblock tahan api, beras premium, tepung beras dan minyak dedak.

Untuk membangun kawasan industri perberasan, investor atau pemerintah memberi modal awal 99% dan petani 1%. Saham petani akan bertambah tiap tahun dan saham investor berkurang sehingga saham petani menjadi 99% dan investor 1%. Jika saham BUMP sudah dimiliki petani, mereka akan mendapat deviden untuk menambah kesejahteraan. “Menyongsong 2045 Indonesia menjadi lumbung pangan dunia harus dimulai dan dipersiapkan dari sekarang. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menyiapkannya?” tandas Win.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *